Menyentuh Hati dari Dua Sisi
Saturday, January 31, 2009
Rectoverso
Menyentuh Hati dari Dua Sisi
Thursday, January 15, 2009
Mengungkap "Mantra" Bisnis Orang Tionghoa

Penulis : Liem Yoe Tjwan
Penerbit : Visimedia, Jakarta
Edisi : 1, Desember 2008
Tebal buku : viii + 116 hlm.
Sering kali kita mendengar ungkapan remeh-temeh seperti ini, “Orang Tionghoa memiliki pemikiran bahwa uang satu juta tidak bisa disebut satu juta tanpa ada uang seratus rupiah. Sangat jarang ditemui orang Tionghoa membuang-buang recehan, seakan-akan tak ada artinya.” Pandangan filosofis seperti ini seolah-olah ingin menegasikan image bahwa orang Tionghoa itu pelit atau kelewat kikir. Bahwa pelit itu pangkal kaya. Benarkah demikian?
Liem Yoe Tjwan, seorang pemuda peranakan yang memiliki kreativitas nalar, semangat, dan penuh dengan inovasi brilian, menulis sebuah buku yang lebih menyerupai “mantra” ketimbang tip-tip manjur untuk meraup kesuksesan dalam berbisnis. Buku yang ditulisnya dalam rangka menyambut tahun baru Imlek 2560 (2009) ini Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa, menyajikan berbagai hal praktis sukses bisnis menurut tradisi dan etos bisnis orang Tionghoa. Termasuk juga prediksi lancar dalam berbisnis di masa krisis ini.
Orang Tionghoa sangat sadar bahwa untuk meraih kesuksesan—dalam segala aspek kehidupan—itu harus ada setidaknya dua hal penting: motivasi dan kemampuan. Dalam realitas kehidupan orang Tionghoa sehari-hari, mereka selalu hidup dalam komunitas yang penuh dengan motivasi yang menyemangati hidup keseharian mereka. Sebab, ketika termotivasi, mereka akan melakukan berbagai macam upaya untuk menambah kemampuan diri sehingga mereka dapat lebih mudah dan cepat meraih kesuksesan hidup. Bahkan, ada pendapat (negatif) dari mereka yang ‘tercengang’ oleh sukses bisnis orang Tionghoa, bahwa dalam upaya meraih kesuksesan bisnis itu, orang Tionghoa acap kali “menghalalkan segala cara”—tanpa mengindahkan etika bisnis, mengabaikan halal-haram (dalam perspektif agama), dan nilai-nilai moral.
Setiap orang setidaknya satu kali dalam hidupnya pernah memimpikan atau menginginkan menjadi sukses (secara finansial). Ada sebagian kecil masyarakat yang tampaknya lebih mudah mendapatkan kesuksesan finansial itu dalam waktu singkat, sedangkan sebagian besar lainnya hanya terus-menerus bekerja keras tanpa mencapai apa yang diinginkannya. Di tanah Air, sebagian kecil itu adalah orang Tionghoa. Mereka tidak semuanya sukses (dalam bisnis) dan hidup kaya raya, tetapi sebagian besar dari mereka itu memiliki prinsip hidup yang mereka jalankan secara disiplin sehingga di kemudian hari membuahkan hasil yang besar.
Prinsip hidup orang Tionghoa yang ditulis Liem Yoe Tjwan (Joko Salim) dalam buku Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa ini hanya sebagian kecil dari prinsip dan sikap hidup yang dapat dilihat dari orang Tionghoa yang mencapai kesuksesan dari nol. Namun jika ditarik ‘benang merah’ etos kerja orang Tionghoa, sebetulnya terdapat “tiga pilar utama” dari sekian banyak prinsip hidup yang membawa mereka menuju kesuksesan secara finansial. Ketiga pilar utama itu adalah kerja keras, hidup hemat, dan putarkan uang yang ada.
Orang Tionghoa memiliki sifat ulet dan kerja keras yang tidak kenal lelah. Ini merupakan prinsip utama yang membawa mereka mencapai kesuksesan. Semua kerja keras yang dilakukan orang Tionghoa itu adalah untuk memperoleh materi (finansial). Mereka sadar betul bahwa uang bukan segala-galanya, tetapi hidup tanpa uang maka segalanya akan menjadi sangat sulit. Inilah yang mendorong mereka untuk melakukan begitu banyak hal untuk mendapatkan uang.
Prinsip hidup hemat—yang cenderung bersikap kikir atau pelit—telah menjadi ciri utama orang Tionghoa. Prinsip hidup hemat yang telah menjadi etos orang Tionghoa itu mengajarkan sikap hidup hemat dan memiliki gaya hidup di bawah kemampuan finansial mereka. Prinsip hidup hemat tersebut biasanya diterjemahkan dalam peribahasa: “jangan sampai lebih besar pengeluaran daripada pemasukan”. Banyak orang memahami prinsip hidup ini, tetapi hanya sedikit yang bisa mengikuti jejak orang Tionghoa. Hal ini disebabkan karena mereka sulit mengekang keinginan mereka. Banyak orang mau hidup hemat, tetapi tidak mau menurunkan gaya hidupnya. Orang Tionghoa sangat disiplin dalam menerapkan prinsip hidup ini, sehingga tidak mengeharankan jika dana cadangan mereka semakin bertambah dari hari ke hari.
Prinsip hidup untuk bekerja keras dan hidup hemat adalah prinsip yang memberikan peluang lebih besar bagi siapa pun untuk memiliki dana cadangan dalam hidupnya. Namun yang sangat penting adalah bahwa dana cadangan tersebut harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Orang Tionghoa sangat memahami arti di balik inflasi ekonomi. Mereka, misalnya, sangat memahami bahwa satu juta rupiah yang dimiliki saat ini “hanya bisa” digunakan untuk membeli suatu jenis barang senilai sembilan ratus ribu rupiah pada tahun depan. Orang Tionghoa akan mengelola dana cadangan mereka dengan dua tujuan utama, yakni menyiasati (mengalahkan) inflasi dan mengembangkan dana cadangan, yang dalam ilmu ekonomi disebut “investasi”.
Selain “tiga pilar utama” etos kerja orang Tionghoa tersebut, buku Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa ini juga menyajikan “25 prinsip penunjang” yang acap kali dilakukan oleh orang Tionghoa dalam mencapai tujuan (motivasi) finansialnya. Prinsip hidup penunjang ini hampir selalu diajarkan orang Tionghoa kepada anak-anak mereka. Prinsip penunjang tersebut, di antaranya: prinsip harus bisa, wirausaha, memulai dari yang kecil, harus bisa dipercaya, tidak mudah percaya, tidak mudah membuka diri, pandai berhitung, tampil apa adanya, membina relasi, makan harus dihabiskan, mencari yang terbaik, menahan diri, tidak menyakiti orang lain, menghormati leluhur, dan mengutamakan keluarga.
Buku karya Joko Salim (Liem Yoe Tjwan) ini ditunjang pula dengan analisis data dan prinsip berinvestasi yang ideal di tengah terpaan krisis finansial yang diprediksi akan melanda dunia secara global di tahun 2009 ini. Termasuk juga tip penting prinsip menjadi kaya. Buku setebal 124 halaman ini menyajikan kiat berinvestasi (disertai aplikasi dan kalkulasi modal) emas, investasi mata uang asing, investasi saham, investasi properti, investasi tanah, investasi bangunan gedung, investasi barang produktif, investasi pabrik, investasi pendidikan, dan franchise sebagai bisnis sampingan. Juga menyajikan prediksi bisnis lancar pada masa krisis.
Apa yang disampaikan dalam buku karya Liem Yoe Tjwan ini merupakan intisari dari berbagai prinsip dasar yang lazim dilakukan oleh komunitas orang Tionghoa dalam menjalankan usaha bisnis dan dalam menginvestasikan kelebihan finansial (dana cadangan) yang dimilikinya. Tentu saja, buku Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa ini bukan “rumus bisnis” yang cespleng untuk meraih kesuksesan secara materi (finansial) dalam waktu singkat.
Namun demikian, pembaca buku ini memiliki “kesempatan” di depan mata untuk juga bisa meraih kesuksesan luar biasa tersebut. Sebab, prinsip hidup dan etos bisnis orang Tionghoa yang telah terbukti sepanjang generasi dan tak lekang di makan zaman ini, disajikan secara detail dan menarik dalam buku yang bisa mengubah prinsip hidup dan etos yang lebih positif.
(Syafruddin Azhar, kolumnis dan pemerhati buku)
Thursday, January 1, 2009
Maryamah Karpov

Wednesday, December 31, 2008
Buku Ke-3.154: Bisa!
Buku karya Joseph E. Stiglitz, Globalization and It’s Discontents (Penguin Books, 2002), merupakan buku koleksi pustaka pribadi saya yang ke-3.154. Buku ini adalah hadiah terindah dari sahabat, Filda Yusgiantoro, yang membawanya sebagai ole-ole dari Amerika Serikat. Untuk itu saya menyampaikan terima kasih sekali lagi atas persahabatan ini. Semoga hajatan nanti pada Januari 2009 berjalan lancar. Salam buat Mas Alex, selamat menempuh hidup baru…
Di kalangan mereka yang menggemari “nomor cantik” plat nomor polisi untuk kendaraan (sepeda motor atau mobil), angka 3154 acapkali dibaca sebagai “BISA”. Andaikan saja metode baca ini benar dalam kaidah bahasa Indonesia, maka jumlah koleksi buku pribadi hingga akhir Desember 2008 yang ke-3.154 (Globalization and It’s Discontents) ini boleh juga dibaca: Bisa!
Makna kata “bisa” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2001) dapat berarti: Pertama, (v) mampu (kuasa melakukan sesuatu); dapat. Kedua, 1. (n) zat racun yang menyebabkan luka, busuk, atau mati bagi sesuatu yang hidup (biasanya terdapat pada binatang); 2. (ki) sesuatu yang buruk, yang dapat merusakkan akhlak manusia atau masyarakat.
Di luar konteks makna kata “bisa” yang saling bertolak belakang ini, saya ingin mengambil sisi positifnya saja. Saya tak ingin menjadi “racun” bagi dunia ini, atau sesuatu yang buruk yang dapat merusakkan akhlak manusia atau masyarakat. Jumlah koleksi buku ke-3.154 dan kata bisa ini menjadi inspirasi bagi tata hidup saya, ke mana arah menuju. Filosofinya, saya harus bisa mengarungi hidup ini dengan baik, sukses, dan selamat. Bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi diri pribadi, keluarga, dan masyarakat sekitar. Harus bisa, bisa, dan bisa!
Selama dua bulan terakhir (November-Desember 2008) ini saya telah membaca 19 judul buku dari beragam topik. Buku-buku ini telah menjadi ‘penghuni’ di lemari buku perpustakaan pribadi saya. Inilah buku yang dibaca selama November-Desember 2008 ini:
-Globalization and It’s Discontents (Joseph Stiglitz, Penguin Books, 2002)
-Fitnah: Menjawab Provokasi Geert Wilders dengan Cerdas (Musa Kazhim & Alfian Hamzah, Hikmah, 2008)
-Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai (Goenawan Mohamad, Kata Kita, 2007)
-Tafsir Politik (Michael T. Gibbons, Qalam, 2002)
-Pembebasan Perempuan (Asghar Ali Engineer, LKiS, 2003)
-Making Globalization Work (Joseph Stiglitz, Mizan, 2007)
-The Dan Brown Companion: The Truth Behind the Fiction (Mainstream Publishing, 2006)
-Dialektika Kesadaran Perspektif Hegel (Martin Heidegger, Ikon Teralitera, 2002)
-Perihal Demokrasi: Menjelajahi Teori dan Praktek Demokrasi Secara Singkat (Robert A. Dahl, YOI, 2001)
-Teori Sosiologi Modern (George Ritzer & Douglas J. Goodman, Kencana, 2004)
-Hong Kong in the Mouth of the Dragon (Pierre Cayrol, Charles E. Tuttle Company, 1998)
-Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal (Connie Rahakundini Bakrie, YOI, 2007)
-Things Fall Apart (Chinua Achebe, Hikmah, 2007)
-Death Dance (Linda Fairstein, Pocket Star Books, 2006)
-In the Belly of the Green Bird: The Triumph of the Martyrs in Iraq (Nir Rosen, Free Press, 2006)
-Kamus Lengkap Pemikiran Sosial Modern (William Outhwaite, ed., Kencana, 2008)
-Pertempuran 10 November 1945: Kesaksian & Pengalaman Seorang Aktor Sejarah (Bung Tomo, Visimedia, 2008)
-Renungan Ida Arimurti: Membuat Hidup Jadi Lebih Berarti (Ida Arimurti, Hikmah, 2008)
-Syair untuk Sahabat (Yudhi F. Oktaviadhi, Gramedia Pustaka Utama, 2008).
Di antara 19 buku yang dibaca ini, antara lain diperoleh dengan cara membeli, hadiah dari sahabat, dan menerima kiriman (gratis) dari beberapa penerbit buku: Hikmah (Jakarta), Mizan (Bandung), Ikon Teralitera (Surabaya), Visimedia (Jakarta), Prenada Media (Jakarta), Gramedia Pustaka Utama (Jakarta), Qalam (Yogyakarta), dan LKiS (Yogyakarta). Saya menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin selama rentang waktu yang cukup panjang ini.
Buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca segera adalah: (1) Globalization and It’s Discontents, (2) Kamus Lengkap Pemikiran Sosial Modern, (3) Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai, (4) Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal, dan (5) Syair untuk Sahabat.
Saturday, December 20, 2008
Kisah Pembunuhan Paling Sadis
Aslinya, buku ini pertama kali terbit di Amerika Serikat (AS) pada 1965. Terjemahan bahasa Indonesianya oleh penerbit Bentang berdasarkan buku yang sama, tetapi edisi 2002. Di negaranya, buku ini termasuk salah satu buku terbaik sepanjang masa.
In Cold Blood adalah buku yang dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada 16 November 1959 di Negara Bagian Kansas, AS.
Satu keluarga pemilik pertanian ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di sebuah desa kecil, Holcomb. Mereka adalah Mr. Herbert Clutter beserta istri dan kedua orang anaknya. Keempat korban malang ini dibantai secara sadis di dalam rumah mereka sendiri. Sherif setempat menyimpulkan, bahwa motif pembunuhan tersebut adalah perampokan. Tetapi apakah benar demikian jika melihat nilai harta yang berhasil digondol kabur si pelaku pembunuhan itu hanya sebesar US$ 42 saja.
Peristiwa itu tercatat sebagai salah satu pembunuhan paling sadis di Kansas. Tak membutuhkan waktu terlalu lama, para penyelidik yang dipimpin oleh detektif Dewey ahirnya berhasil menggulung para pelakunya, Richard “Dick” Hickock dan Perry Smith. Para juri di pengadilan kemudian sepakat menjatuhkan hukuman gantung bagi mereka berdua.
Sebagai penggemar kisah suspens dan detektif, bagian paling menarik menurut saya adalah ketika kedua cecunguk ini diinterogasi. Kita seolah-olah diajak serta meneropong benak para pembunuh ini; mengungkap masa lalu dan latar belakang psikologis keduanya. Secara detail Capote menceritakan kehidupan Perry dan Dick yang pada dasarnya tidak bahagia. Mereka adalah anak-anak keluarga miskin broken home yang kurang kasih sayang.
Penelusuran ke masa lalu ini menjadi memikat sebab ditulis dengan penuh ketelitian, berimbang, dan emosional... Perlahan-lahan rasa kasihan dan simpati saya timbul kepada kedua kriminal ini. Meskipun ini sungguh-sungguh sebuah kisah nyata, namun dengan cerdik Capote berhasil membuatnya bagaikan sebuah novel fiksi. Tokoh-tokohnya hadir dengan karakter yang kuat, melekat terus dalam ingatan pembacanya.
Motif mereka membunuh semata-mata karena uang. Kabar tentang Clutter pertama kali mereka dengar di penjara Lansing dari mulut Floyd Wells, teman satu sel Dick. Wells bercerita bahwa sebelum dipenjara ia pernah bekerja pada Mr.Clutter. Wells yakin Mr. Clutter adalah seorang kaya raya dan pasti memiliki brankas di suatu tempat di rumahnya. Dick mencatat semua ocehan Wells dalam otaknya, lengkap dengan “gambar” denah rumah Mr. Clutter. Dick sesumbar bahwa jika ia bebas dari Lansing ia akan merampok Mr. Clutter demi lembaran dolar di brankasnya.
Wells tak pernah menduga Dick akan benar-benar menjalankan rencananya. Ia mengajak serta Perry Smith, seorang pemuda keturunan Indian yang menggemari sastra yang juga dikenalnya di penjara Lansing. Lewat informasi dan “kesaksian” Wells ini, sherif akhirnya berhasil menangkap Dick dan Perry.
Pada bagian awal cerita, saya agak direpotkan dengan kalimat panjang (berikut anak kalimat yang banyak pula, mengingatkan saya pada alm. Romo Mangun) Capote. Tetapi, lambat-laun, setelah bisa “menyesuaikan diri” dan masuk ke dalam alurnya, justru saya menemukan kenikmatan tersendiri selama membacanya dan tak ingin berhenti sampai terungkap misteri yang menyelimuti kisah kelam ini.
Capote melengkapi bukunya dengan berbagai bahan dan data yang diperolehnya dari berbagai sumber, baik berupa catatan resmi atau pun hasil wawancara dengan semua orang yang terlibat langsung. Konon ia dibantu oleh sahabatnya, Harper Lee (penulis novel keren To Kill A Mockingbird).
Eksekusi hukuman mati bagi Perry dan Dick baru telaksana pada tengah malam 14 April 1965. Mereka digantung di Lansing, Kansas setelah gagal melakukan berbagai upaya pembatalan hukuman mati lewat pengadilan banding dan Mahkamah Agung Amerika Serikat. Empat bintang dari saya. (Endah Sulwesi, penikmat sastra, tinggal di Jakarta)
Link Endah Sulwesi: http://perca.multiply.com/reviews/item/24
Monday, December 8, 2008
Siapa Perusak Ekonomi Global?

Penulis : Joseph Stiglitz
Penerbit : Penguin Books, England
Edisi : I, 2002
Tebal buku : xxii + 288 hlm.
Jika pertanyaan “Siapa perusak ekonomi global” ditujukan kepada Joseph Stiglitz, pemenang Hadiah Nobel bidang Ekonomi (2001) dan mantan Ketua Tim Ekonom Bank Dunia, yang juga pernah menjadi Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Bill Clinton; bisa dipastikan dia akan menjawab lantang, “Amerika dan lembaga keuangan internasional!”.
Itulah yang ingin ditegaskan Joe Stiglitz dalam buku bestseller-nya, Globalization and It’s Discontents. Buku dengan analisis tajam dan dalam ini menjelaskan begitu banyak kelemahan dari kebijakan ekonomi global, yang pada akhirnya terbukti secara nyata melalui krisis ekonomi global yang sedang melanda dunia sekarang ini.
Berdasarkan pengalamannya selama berada di Gedung Putih dan di Bank Dunia, Joe Stiglitz secara peka menggambarkan begitu banyak upaya yang dilakukan lembaga keuangan global dalam proses globalisasi itu telah menjatuhkan beberapa negara yang sedang mengalami krisis finansial yang seharusnya mereka—lembaga finansial dunia seperti IMF dan Bank Dunia—bantu. Inilah mengapa banyak analis keuangan global membuktikan “salah urus” yang dilakukan lembaga keuangan internasional dalam proses globalisasi.
Karier akademik Joe Stiglitz yang cemerlang terutama selama berada di lingkungan dalam Washington DC, setidaknya telah membentuk dirinya untuk bertindak secara profesional. Sebelum akhirnya ‘terjerumus’ dalam Gedung Putih, dia intens dalam penelitian dan menulis tentang abstraksi ekonomi matematika—membantu mengembangkan cabang ilmu ekonomi yang sekarang disebut Ilmu Ekonomi Informasi—serta berbagai topik ekonomi terapan lainnya seperti ekonomi publik, ekonomi pembangunan, dan kebijakan moneter.
Lebih dari 25 tahun lamanya, Joe Stiglitz telah menulis berbagai topik kebijakan ekonomi seperti kepailitan, corporate governance, dan keterbukaan terhadap akses informasi (para ekonom menyebutnya sebagai transparansi). Beberapa topik kajian ekonomi ini, termasuk transisi dari sistem ekonomi komunis ke sistem ekonomi pasar, merupakan isu yang sangat penting pada saat mulainya krisis keuangan global yang terjadi pada 1997 lalu.
Krisis ekonomi global yang dipicu oleh krisis keuangan (2008) yang melanda perekonomian Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden George W. Bush, yang kemudian berimbas kepada perekonomian global ini tidak lepas dari apa yang pernah diperingatkan secara keras dan lantang oleh Joe Stiglitz semenjak dua dasawarsa silam.
Lewat karya fenomenalnya, Globalization and It’s Discontents, Joe Stiglitz menuduh Amerika sebagai “penjahat utama” terjadinya krisis ekonomi global. Dia pun menuduh negara Barat bersikap “munafik” karena telah memaksa negara miskin di dunia untuk menghapuskan hambatan perdagangan, tetapi mereka—negara Barat—tetap memertahankan hambatan perdagangan mereka sendiri, mencegah negara berkembang mengekspor hasil pertanian mereka dan akibatnya mengurangi pendapatan ekspor yang sangat mereka butuhkan.
“The critics of globalization accuse Western countries of hypocrisy, and the critics are right. The Western countries have pushed poor countries to eliminate trade berriers, but kept up their own barriers, preventing developing countries from exporting their agricultural products and so depriving them of desperately needed export income. It not only hurt the developing countries; it also cost Americans, both as consumers, in the higher prices they paid, and as taxpayers, to finance the huge subsidies, billions of dollars.” (hlm. 6-7)
Inilah di antara kecaman dan ketidaksetujuan Joe Stiglitz pada kebijakan globalisasi perdagangan yang menurutnya tidak adil itu. Baginya, Amerika bersama beberapa negara Barat telah berlaku munafik dan mengabaikan kemiskinan—akibat globalisasi—yang dialami negara berkembang yang sungguh ironi itu. Padahal, kebijakan globalisasi ekonomi ini sejatinya dimaksudkan untuk menyejahterakan umat manusia di seluruh dunia dan mengurangi kemiskinan global. Alih-alih menghasilkan apa yang direncanakan semula, kebijakan ini justru semakin mempermiskin orang-orang yang hidup di negara Dunia Ketiga.
Karena itu, apa pun pendapat kita tentang keterlibatan Joe Stiglitz dalam lembaga donor internasional (seperti Bank Dunia), yang dituduhnya juga sebagai “biang kerok” proses pemiskinan global, pembaca akan terpikat oleh pandangannya yang begitu tajam dan terpercaya, yang mengusung agenda reformasi untuk menata kembali globalisasi itu.
Buku Globalization and It’s Discontents ini direkomendasikan sebagai bacaan wajib bagi mereka yang peduli terhadap masa depan, yang percaya bahwa dunia yang bermoral dapat diciptakan, dan yang ingin mengalihkan pembenturan antara kaum miskin dan kaya. Buku ini bagaikan cerita perang dari dalam dinding Gedung Putih dan Bank Dunia, pengakuan dari seorang ekonom yang berpengaruh, yang memiliki kesadaran politik dan nalar yang sehat.
Sejatinya, globalisasi sekarang ini tidak berpihak kepada kaum miskin di dunia. Ia (globalisasi) tidak bekerja untuk sebagian besar lingkungan yang ada. Ia tidak menciptakan stabilitas ekonomi global. Transisi dari komunisme menuju ekonomi pasar dikelola sebegitu parahnya sehingga, kecuali di China, Vietnam, dan sejumlah negara Eropa Timur, kemiskinan meningkat tajam ketika pendapatan terpuruk. Joe Stiglitz menulis, “Globalization today is not working for many of the world’s poor. It is not working for much of the environment. It is not working for the stability of the global economy. The transition from communism to a market economy has been so badly managed that, with the exception of China, Vietnam, and a few Eastern European countries, poverty has soared as incomes have plummeted.” (214)
Joe Stiglitz mempertimbangkan kebijakan ekonomi IMF. Menurutnya, sebagian berdasarkan anggapan yang usang bahwa pasar, dengan sendirinya, mengarah pada hasil yang efisien, tidak memberikan ukuran kebolehan intervensi pemerintah yang diperlukan di dalam pasar sehingga dapat mengarahkan pertumbuhan ekonomi dan membuat setiap orang lebih sejahtera. Dia memaparkan perselisihan pendapat itu ke dalam beberapa gagasan dan konsepsi mengenai peran pemerintah yang berasal dari berbagai gagasan tersebut.
Walaupun gagasan-gagasan itu memiliki peran penting dalam menentukan kebijakan—dalam pembangunan, menyelesaikan krisis, dan dalam masa transisi—berbagai gagasan tersebut merupakan hal utama dalam persepsi yang dirumuskan Joe Stiglitz mengenai bagaimana mereformasi lembaga keuangan internasional yang seharusnya dapat mendorong pembangunan ekonomi, menyelesaikan krisis, dan memfasilitasi transisi ekonomi dunia.
Melalui buku Globalization and It’s Discontents ini, Joe Stiglitz memaparkan kegagalan pasar dan pemerintah, serta tidak begitu naifnya menganggap bahwa pemerintah dapat memperbaiki setiap kegagalan pasar tersebut. Stiglitz menyangsikan pandangan bahwa pasar dengan sendirinya dapat memecahkan setiap permasalahan (ekonomi) yang dialami publik.
Ketidakmerataan, pengangguran, dan polusi adalah persoalan yang membutuhkan keterlibatan peran penting pemerintah. Joe Stiglitz meneliti inisiatif reformasi untuk “pembaruan pemerintahan” (reinventing government)—menjadikan pemerintah bekerja lebih efisien dan lebih tanggap dalam menghadapi setiap krisis yang dihadapi.
Menurut Joe Stiglitz, reaksi negatif terhadap globalisasi berasal tidak hanya dari kerusakan nyata yang dilakukan pada negara berkembang (developing countries) karena kebijakan yang diarahkan oleh ideologi, tetapi juga dari ketidakadilan sistem perdagangan global. Hingga kini, beberapa negara—selain mereka yang memiliki kepentingan tertentu untuk mendapatkan keuntungan dengan membatasi barang yang diproduksi oleh negara miskin—masih tetap memertahankan kemunafikan, berpura-pura membantu negara berkembang dengan memaksa mereka untuk membuka pasarnya terhadap barang dari negara industri maju, sementara pasar mereka sendiri tertutup rapat.Ini merupakan kebijakan yang membuat orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk ke dalam jurang kemiskinan—serta membangkitkan kemarahan. (Syafruddin Azhar)
Sunday, October 26, 2008
Most Likely to Die

Judul buku : Most Likely to Die
Penulis : Lisa Jackson, Beverly Barton & Wendy C. Staub
Penerbit : Dastan, Jakarta
Edisi : I, Agustus 2008
Tebal buku : 584 hlm.
1986: Portland, Oregon. Pesta dansa malam valentine di SMA Katolik St. Elizabeth berubah menjadi mimpi buruk. Jake Marcott sang casanova ditemukan tewas terbunuh. Tubuhnya tertancap di pohon ek dengan anak panah tepat menghunjam jantung.
Sang pembunuh, yang dijuluki The Cupid Killer, tidak pernah tertangkap, meninggalkan wanita-wanita terkasih Jake berkubang dalam trauma.
2006: Dua puluh tahun kemudian, menjelang reuni SMA St. Elizabeth, The Cupid Killer kembali beraksi. Setiap wanita yang mengidolakan Jake semasa SMA menjadi targetnya.
Para wanita itu mendapat undangan reuni beserta ‘tanda maut’ berupa foto mereka masing-masing yang disilang dengan noda merah.
Sejauh ini, The Cupid Killer telah menghabisi tiga korban. Namun, yang menjadi target puncaknya adalah Kristen, Lindsay, dan Rachel—tiga mantan kekasih Jake Marcott. Ketiganya pun berusaha mengungkap jati diri The Cupid Killer. Mencoba membongkar rahasia kelam sang pembunuh, yang dapat membebaskan mereka dari bayangan gelap cinta masa lalu, sebelum The Cupid Killer kembali mengisi “kuil suci”-nya dengan suvenir yang ia ambil dari para korbannya...
“Novel romantic suspense yang menguak efek dari cinta, benci, tragedi, dan pengkhianatan... Sangat luar biasa”—Book Reporter
Saturday, October 18, 2008
Nothing To Fear

Judul buku : Nothing To Fear
Penulis : Karen Rose
Penerbit : Zahra, Jakarta
Edisi : I, September 2008
Tebal buku : 588 hlm.
Harga : Rp 69.900,-
Kekuatan dendam seorang wanita bisa begitu besar, begitu menghancurkan, dan begitu mengalahkan cinta...
Wight’s Landing, Maryland. Pasangan suami-istri Vaughn pulang dari perayaan ulang tahun pernikahan dan menemukan rumah mereka berantakan. Paul McMillan, tunangan Cheryl Rickman, terapis anak mereka, ditemukan tewas mengenaskan. Kepalanya hancur tertembak dan posisi tubuhnya diatur seolah bunuh diri. Alec, anak mereka yang menderita cacat, lenyap. Yang tertinggal hanyalah secarik kertas berisi ancaman dan tuntutan untuk menyerahkan tebusan. Suami-istri itu pun meminta bantuan Ethan Buchanan, eks marinir yang juga teman mereka, untuk menemukan Alec.
Hanover House, Chicago. Dana Dupinsky menerima seorang wanita misterius dan anaknya di rumah singgah yang didirikannya untuk membantu wanita korban kekerasan rumah tangga. Wajah wanita itu dipenuhi memar dan anaknya sama sekali tidak bicara karena trauma. Namun, lama-kelamaan Dana curiga terhadap wanita yang tampaknya tidak peduli pada anaknya sendiri itu. Terlebih lagi, dokter yang diminta Dana untuk memeriksa anak itu tewas secara mengenaskan sebelum sempat melaporkan hasil pemeriksaannya.
Sementara itu, Dana bertemu dengan Ethan, lelaki asing yang anehnya memberikan Dana ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sejalan dengan berkembangnya hubungannya dengan Ethan, satu per satu rahasia kelam mulai terbongkar. Rahasia kelam Dana. Rahasia kelam Ethan. Dan rahasia kelam sang wanita misterius, yang ternyata dapat menyelamatkan Alec Vaughn dari kematian...
Pujian untuk novel ini:
-Buku ini, tentu saja, memiliki segalanya... ketegangan, romansa, humor, dan persahabatan.—Barnes&Noble
-Jika Anda adalah penggemar romantic-suspense, Mrs. Rose adalah pengarang yang tepat!
—Amazon.com
-Contoh yang bagus untuk genre romantic-suspense.—Armchair Interviews
-Nothing To Fear adalah novel suspense menegangkan yang akan menghanyutkan pembaca dari awal hingga akhir.—Harriet Klausner, #1 reviewer at Amazon.com
-Salah satu novel romantic-suspense yang sangat menyenangkan untuk dibaca.—Book Reporter
-Rose menghadirkan ketegangan tingkat tinggi yang begitu memikat para pembaca.—Lisa Gardner, penulis bestseller.
-Pilihan tepat! Mengerikan dan berani!—Romantic Times
Monday, September 29, 2008
Tionghoa dalam Cengkeraman SBKRI

Judul buku : Tionghoa dalam Cengkeraman SBKRI
Penulis : Wahyu Effendi dan Prasetyadji
Penerbit : Visimedia, Jakarta
Edisi : I, 2008
Tebal buku : xii + 148 hlm.
Sosialisasi Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang dilakukan Departemen Hukum dan HAM RI di berbagai daerah di Tanah Air sejak Agustus 2006 lalu, tampaknya masih mengundang banyak pertanyaan. Hal ini disebabkan masih ada yang mempersyaratkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dalam setiap pengurusan berbagai dokumen seperti paspor, pengurusan KTP dan atau SIM, serta dokumen pernikahan.
Sampai dengan dua tahun pasca-diterbitkannya UU No. 12/2006 itu ternyata masih saja disemarakkan dengan tetap diberlakukannya SBKRI kepada WNI keturunan Tionghoa. Kenyataan ini menambah daftar panjang “kegagalan” upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan diskriminasi rasial sejak 1978. Kala itu Peraturan Menteri Kehakiman ditindaklanjuti pelaksanaannya dengan terbitnya Surat Edaran Menteri Kehakiman No. JHB.3/31/3 Tahun 1978 kepada semua Pengadilan Negeri. Inti Surat Edaran tersebut ‘mewajibkan’ kaum peranakan untuk memiliki SBKRI.
“Dipersulit, iya, tetapi enggak sampai tertindas,” kata pendiri CSIS itu bersemangat. Lebih lanjut dikatakan Harry Tjan, bahwa persoalan SBK itu dibutuhkan di semua negara di mana pun. SBK sebagai kata generik adalah hal yang biasa, tetapi di Indonesia SBKRI ini hanya dikenakan kepada keturunan Tionghoa sehingga tidak diterima dan dianggap sebagai unsur diskriminasi. Harry Tjan pun menceritakan mengenai adiknya yang seorang kolonel.
Masalah penghapusan SBKRI haruslah segera dituntaskan dalam upaya membangun kehidupan kebangsaan Indonesia yang majemuk dan berperadaban. Penulisan buku Tionghoa dalam Cengkeraman SBKRI ini juga penting sebagai inisiatif yang beradab dalam rangka dialog konstruktif masyarakat dan pemerintah.
Syafruddin Azhar adalah kolumnis dan peneliti pada Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP) Jakarta.
Thursday, September 25, 2008
Perang Nuklir?

Judul buku : Perang Nuklir?
Penulis : Muhammad Alcaff
Penerbit : Zahra, Jakarta
Edisi : I, September 2008
Tebal buku : 208 hlm.
Harga : Rp 49,900.00
Saat ini, mungkin Republik Islam Iran menjadi negara yang paling ditakuti oleh Amerika Serikat dan Israel. Dengan kekuatan militernya yang terdiri atas 12 juta personel—baik militer reguler, cadangan, maupun sukarelawan—kemampuan Iran dalam meruntuhkan hegemoni serta kesewenang-wenangan AS dan Israel tidak bisa dipandang remeh.
Faktanya, pasukan Hezbollah dukungan Iran terbukti telah berhasil mengusir Israel dari Libanon pada 2000 dan 2006. Iran pun terus mendukung Hamas di Palestina, sehingga menimbulkan ancaman serius bagi pendudukan Israel. Apalagi, Iran kini telah menguasai teknologi nuklir. Kenyataan ini semakin membuat gentar AS dan Israel. Maka tak heran jika keduanya beserta para sekutu Eropa mereka terus menekan Iran berkenaan dengan isu nuklir.
Kini, dunia tengah memasuki babak baru. Hegemoni lama segera berakhir. Peta kekuatan sedang disusun ulang. Iran, dengan kekuatan militernya yang besar dan tangguh, telah mengembalikan harga diri dan kepercayaan diri umat Muslim yang sudah sekian lama diinjak-injak oleh pihak Barat dan Zionis. Pertanyaannya sekarang: Akankah AS dan Zionis akan melepaskan begitu saja hegemoni mereka tanpa aksi militer? Bila mereka melancarkan aksi militer terhadap Iran, bagaimana nasib dunia? Akankah perang nuklir menyeret umat manusia ke jurang kehancuran?
“Dengan bantuan Tuhan, rakyat Iran telah melakukan perlawanan, tengah melakukan perlawanan, dan akan melakukan perlawanan sampai akhir. Jika Anda ingin memulai konflik baru, rakyat Iran akan melawan dan tidak akan mundur satu langkah pun. Namun jika Anda menginginkan persahabatan dan kerja sama, rakyat Iran akan menjadi sahabat terbaik Anda. Jika Anda bergerak maju berdasarkan hukum, keadilan, dan logika, maka Iran akan merundingkan masalah global penting dan akan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan itu. Dunia harus tahu kalau Iran tidak akan mundur seinci pun dari haknya menggunakan nuklir.” (Presiden Mahmoud Ahmadinejad)
“Kami tidak akan menghentikan proyek uranium. Karenanya, kami memandang sebaiknya Barat bisa lebih baik memahami proyek uranium Iran. Saya berkata kepada Bush, bahwa masa kekuasaannya telah berakhir dan syukurlah, Anda (Bush) tidak akan dapat merusak satu sentimeter pun tanah suci Iran... Jika musuh berpikir bahwa mereka dapat menghancurkan bangsa Iran dengan tekanan, maka mereka salah. Bangsa Iran akan menghapus senyuman dari wajah mereka.” (Presiden Mahmoud Ahmadinejad)
Ahmadinejad Menggugat!

Judul buku : Ahmadinejad Menggugat!
Penulis : Dr. Mahmud Ahmadinejad
Penerbit : Zahra, Jakarta
Edisi : I, September 2008
Tebal buku : 352 hlm.
Harga : Rp 49,900.00
Saat ini pemerintah negara Barat yang dimotori Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, begitu memusuhi Republik Islam Iran dan Presidennya, Mahmud Ahmadinejad. Berbagai isu pun dikembangkan untuk menyudutkan Iran dan Ahmadinejad, mulai dari isu terorisme sampai isu senjata nuklir.
Faktanya, semua itu hanyalah akal-akalan Zionis Israel dan Amerika untuk melancarkan rencana busuk mereka yang hendak mendirikan Israel Raya yang membentang dari Sungai Nil (Mesir) hingga ke Sungai Furat (Irak). Iran dan presiden progresifnya menjadi batu penghalang terbesar bagi rencana itu. Kalahnya pasukan Israel oleh Hizbullah dukungan Iran di Libanon dan kefasihan Ahmadinejad di Universitas Columbia AS, merupakan bentuk perlawanan yang mengangkat martabat umat Islam yang selama ini terpuruk di bawah kaki Amerika dan Zionis.
Buku ini memuat pikiran Ahmadinejad serta visinya dalam membangun tatanan dunia yang adil di masa depan. Niscaya kita akan bisa membaca ke mana arah kebijakan Iran dan akan dibawa ke mana segala ketegangan yang terjadi antara Iran dan negara Barat yang dimotori Amerika. Apakah akan dibawa ke arah perang terbuka yang berarti kiamat kecil?
“Holocaust, jika memang suatu kenyataan, terjadi di Eropa. Bangsa Palestina tidak punya peran di dalamnya. Mengapa orang Palestina harus terus menanggung akibat suatu peristiwa yang tidak ada kaitannya dengan mereka? Lima juta orang terus diusir dan menjadi pengungsi perang selama 60 tahun—bukankah ini suatu kejahatan?”
Pascaperistiwa 11 September, Afghanistan dan Irak dijajah. Enam tahun wilayah kami mengalami ketidakamanan, diteror dan dicekam ketakutan. Jika akar peristiwa 11 September diteliti, kenapa peristiwa ini bisa terjadi, kondisi apa yang menyebabkannya serta siapa aktor sebenarnya dalam kejadian ini, semua akan paham bagaimana menyelesaikan masalah Afghanistan dan Irak.”
“Kami tahu apa yang kami inginkan. Kalian yang sekarang telah melahirkan generasi kelima bom atom, atas hak apa kalian menghalangi aktivitas damai nuklir negara lain untuk menghasilkan energi?”
“Umat manusia menyaksikan, dalam seluruh perang—Perang Korea dan Vietnam, perang yang dilakukan oleh Zionis terhadap Palestina dan Libanon, perang Saddam terhadap Iran, serta perang rasis di Afrika-Eropa—secara sepihak dilakoni oleh negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB.”
Tuesday, September 16, 2008
The Apple Way

Judul buku : The Apple Way
Penulis : Jeffrey L. Cruikshank
Penerbit : Esensi, Jakarta
Edisi : I, 2008
Tebal buku : xxiii + 278 hlm. (Hard cover)
Teladan dan kearifan hidup itu berawal dari kedewasaan, pengalaman, dan kematangan. Sikap hidup sukses itu selalu ada dalam jiwa yang sehat, yang berkemaun keras, menyadari kesalahan dan mau memperbaikinya, menikmati keberhasilan dengan tetap berkontribusi pada evolusi hidup berkesinambungan dan visioner.
Filosofi kearifan hidup inilah yang melatari hampir semua aspek kehidupan seseorang maupun institusi atau organisasi perusahaan. Mereka yang sukses adalah pribadi tangguh yang memandang kesalahan yang dilakukan sebagai kawah candradimuka untuk bangkit dan tetap bersahaja menyambut kesuksesan dengan tetap berpijak pada tatanan.
Masa depan tidak selalu baik, dan—tanpa kasih sayang—masa depan mungkin tidak akan bertahan lama. Tetapi, kita harus menatap masa depan itu. Penyair Anglo-American dan penulis terkemuka abad ke-20, Wystan Hugh Auden (1907-1973), mengatakan, “Melihat jauh seperti burung elang, mereka mencari masa depan yang berbeda.” Ya, kita harus menyambut dan menatap masa depan itu jauh ke depan (visioner) seperti elang.
Itulah yang dilakukan Steve Jobs, salah seorang pendiri Apple Company, perusahaan berbasis teknologi paling visioner sekarang ini yang menitikberatkan kekuatan manajemennya pada sektor litbang atau research and development (R&D). Bagi Steve Jobs dan para visioner Apple Company, menemukan masa depan tidaklah cukup. Harus dicari terobosan baru (inovasi), melewati rintangan dan tantangan, serta menggenggamnya erat.
Soichiro Honda (1906-1991), industrialis terkemuka Jepang yang dilahirkan di Hamamatsu, Shizuoka, Jepang, pernah mengatakan bahwa “Success is 99,9% failures”. Filosofinya adalah bahwa untuk meraih keberhasilan itu butuh pengorbanan, kerja keras, ulet, tangguh, dan kembali bangkit bersemangat setelah terjatuh jungkir balik.
Kisah sukses, ketangguhan, kuelatan serta kekuatan inovasi dan berjiwa visioner yang pernah dilakukan Apple Company dengan icon-nya, Steve Jobs, itu dirumuskan dalam “buku hebat” oleh penulis buku manajemen terkemuka, Jeffrey L. Cruikshank. Pembaca akan dibuat tercengang dengan kiprah Steve Jobs, yang pernah terusir dari Apple Company yang ikut didirikannya, lalu bergabung kembali untuk membesarkannya.
Buku The Apple Way yang belum lama ini diluncurkan oleh penerbitnya, Esensi (Erlangga Group) di Soho Music Café, Cilandak Town Square (21/8) ini melengkapi buku sejenis bergenre “way”, seperti Toyota Way, Google Success Story, dan Nokia.
Membaca The Apple Way serasa menyimak novel thriller yang penuh intrik dan membuat jantung pembaca berdegup kencang. Buku ini tidak saja menyajikan kisah sukses dan geliat perusahaan berbasis teknologi, tetapi juga mengungkap jatuh bangunnya sebuah tim dalam memberdayakan sumber daya manusia yang kemungkinan juga bakal ambruk.
Dion Dewa Barata, dosen Strategic Management pada Universitas Pelita Harapan (UPH), mengatakan bahwa sebagai perusahaan berbasis teknologi, Apple Company berhasil memadukan keunggulan teknis dengan keindahan seni dan mentransformasikan keduanya menjadi pengalaman emosional bagi konsumennya. Faktor emosional inilah yang menjadi salah satu keunggulan daya saing Apple, yang sulit ditiru kompetitornya.
Menyebut nama Apple Computer, kita tentu teringat teknologi iPod yang penjualannya telah melampaui angka 10 juta unit di seluruh dunia. Juga rasa kagum kalangan dunia usaha bisnis melihat lonjakan harga saham Apple Company sebesar 250% dan membukukan laba bersih sebesar 530% dalam kurun waktu hanya setahun. Prestasi luar biasa yang pernah dicapai sebuah perusahaan piranti teknologi berbasis computer.
Yang menarik, prestasi besar ini dicapai Apple Company dengan cara yang tidak biasa. Melalui gejolak penuh liku internal manajemen, dengan perjuangan penuh tantangan untuk memperkenalkan produk komputer “Lisa” (Local Integrated Software Architecture) di tahun 1983 dan sukses iPod dewasa ini. Dalam posisi ini, Apple boleh dikatakan telah melakukan perubahan radikal dan revolusioner dalam industri berbasis computer.
Apple Company belajar dari kiprahnya bahwa perusahaan ini tak dapat melakukannya sendiri, meskipun cerdik. Pasar berkembang begitu cepat, teknologi berkembang makin kompleks, dan semakin banyak orang pandai yang melakukan inovasi dan investasi. (Syafruddin Azhar)
Monday, September 8, 2008
Mau ke Mana Obama?

Setan Berkedok Malaikat?
Judul buku : Mau ke Mana Obama?
Judul asli : An American Story: The Speeches of Barack Obama; A Primer
Penulis : David Olive
Penerjemah : Hari Ambari, Dewi Anggraeni
Penerbit : Zahra, Jakarta
Edisi : I, Agustus 2008
Tebal buku : 272 hlm.
“Saya mendapat dukungan paling kuat dari komunitas Yahudi. Itu karena sejak dulu saya menjadi sahabat dekat Israel. Saya pikir, mereka adalah salah satu sekutu kita yang paling penting.”—Barack Obama
Sejak Barack Obama muncul ke hadapan publik Amerika (dan dunia) untuk memperkenalkan dirinya sebagai bakal calon Presiden Amerika Serikat, Senator asal Illinois ini hadir bagaikan “the rising star” yang akan melakukan perubahan mendasar atas politik luar negeri Amerika menjadi lebih humanis, lebih bersahabat (dialog) ketimbang aksi militer, sebagaimana dilakukan pendahulunya dari Washington (Gedung Putih).
Syafruddin Azhar, kolumnis dan peneliti pada Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP) Jakarta.
Friday, September 5, 2008
Zaman Kenisbian: Konsekuensi Perang terhadap Teror

Judul buku : Zaman Kenisbian: Konsekuensi Perang terhadap Teror
Judul asli : The Age of Fallibility: The Consequences of The War on Terror
Penulis : George Soros
Penerjemah : Dian R. Basuki
Editor : Bambang Harymurti
Penerbit : PDAT (Tempo), Jakarta
Edisi : Desember 2006
Tebal buku : xxxii + 283 hlm.; 22 cm.
Tidak mudah menjadi tokoh sekaliber George Soros. Meski kini hidup bergelimang harta (orang terkaya nomor 80 di dunia menurut Forbes, dengan total kekayaan sekitar US$8,5 miliar) dan aktif di banyak kegiatan sosial dan kemanusiaan, stigma buruk terlanjur melekat dalam diri pria keturunan Yahudi ini. Dia, misalnya, disebut sebagai “penjahat ekonomi”.
Salah satu penyebab cap buruk yang ditujukan kepada pria berusia 77 ini adalah strategi bisnis (investasi) yang selama ini dijalaninya. Sebagai hedge fund manager, Soros cenderung mengejar keuntungan setinggi-tingginya dalam waktu singkat. Keputusan bisnisnya acapkali kontroversial. Inggris, Prancis, dan beberapa negara di Asia telah merasakan penderitaan—krisis moneter dan sosial-politik—akibat sepak terjang investasi bisnis yang dilakukannya.
Sebagai contoh, pada 1988 Soros mengambil alih saham bank asal Prancis, Societé Generalé. Menurut beberapa pemberitaan yang dilansir media massa, ia pernah ditawari untuk membeli saham bank tersebut tetapi ditolaknya. Namun tak lama setelah itu ia menyatakan akan membelinya. Tak ayal, tindakan kontroversialnya ini menimbulkan kecurigaan di kalangan pejabat hukum Prancis. Pada 1989 diadakan penyelidikan atas transaksi bisnis Soros tersebut. Hasilnya, di tahun 2002 terkuak fakta bahwa transaksi yang dilakukannya itu ilegal karena mendapat informasi dari orang dalam (insider trading). Akibat tindakan bisnisnya ini, Soros didenda sebesar US$2 juta. Proses pengadilan bisnis ilegal ini hingga kini belum tuntas.
Tak lama setelah kasus ini, Soros kembali melakukan investasi kontroversial. Pada 16 September 1992, dia menjual (short) mata uang poundsterling senilai hampir US$10 miliar karena berdasarkan analisis dan naluri bisnisnya, mata uang Inggris akan segera turun. Akibat tindakannya itu, pound sterling benar-benar ‘terkapar’ alias knock out.
Tindakan Soros ini memaksa Bank of England (BOE) menempuh langkah darurat. Di antaranya dengan mengerek bunga dan keluar dari European Exchange Rate Mechanism (ERM)—mekanisme penentuan mata uang sebelum euro. Dampaknya, perekonomian global di hari itu pun morat-marit. Pers Inggris menyebut hari itu sebagai “Black Wednesday”. Departemen Keuangan Inggris menghitung kerugian akibat ‘ulah’ Soros ini mencapai 3,4 miliar poundsterling, sedangkan Soros sendiri meraup keuntungan sebesar US$1,1 miliar.
Efek “bola salju” dari tragedi “Black Wednesday” ini merembet ke mana-mana, menyebabkan mata uang di dunia ikut melemah terhadap US$. Kepada The Times (26 Oktober 1992), Soros mengatakan (tanpa merasa bersalah sedikit pun atau merasa berdosa kepada banyak orang di dunia): “Seharusnya kami menjual lebih dari US$10 miliar.”
Krisis Asia (1997/1998), termasuk di Indonesia, disebut-sebut akibat ulah Soros. Ia lagi-lagi dituding sebagai “scapegoat” (kambing hitam) di balik krisis moneter itu. Efek penularan (contagion effect) dari mata uang baht (Thailand) menerjang perekonomian negara di kawasan ASEAN. Pers Thailand menggambarkan sosok Soros seperti “lintah darat” yang senang mengisap darah orang dan menyebutnya sebagai “penjahat ekonomi”. Perdana Menteri Malaysia kala itu, Dr. Mahathir Mohammad, sampai-sampai menyebutnya “moron” (bego). Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan Soros bertanggungjawab atas apa yang disebut sebagai “revolusi warna” di Georgia dan Ukraina. Soros, oleh pers Amerika, dituduh mencoba membeli pemilihan setelah dia menentang pemilihan kembali Presiden George W. Bush pada 2004. Tetapi semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya itu dikatakannya berlebihan dan tidak berdasar. Ia membantahnya dengan membuktikan fakta-fakta.
Tindak-tanduk dan sepak terjang investasi bisnis yang dilakukan George Soros ini sulit dilupakan orang. Dia pun menyadari hal itu. Kini, ia semakin aktif dalam kegiatan sosial dengan mendirikan dua yayasan sosial, yakni Soros Foundations (SF) dan Open Society Institute (OSI). Seolah ingin menebus dosa-dosa bisnis yang pernah dilakukannya, ia mengucurkan dana jutaan dolar melalui yayasan yang didirikannya ini.
Melalui OSI ini pula, Soros menerbitkan buku pribadinya The Age of Fallibility: The Consequences of The War on Terror, yang diindonesiakan oleh PDAT berjudul: Zaman Kenisbian: Konsekuensi Perang terhadap Teror. Dalam buku yang ditulisnya pada medio 2006 ini, ia mengungkap semua fakta dan mencoba membela diri. Dia menulis bahwa dirinya, melalui yayasan yang didirikannya di beberapa kawasan di dunia, telah membantu rakyat dan pemerintahan setempat keluar dari kemelut sosial, ekonomi, dan politik. “Saya harus mengklarifikasi sikap saya. Tujuan saya ialah menjadikan dunia tempat yang lebih baik.” Tulisnya dalam buku The Age of Fallibility (Zaman Kenisbian) ini. Buku ini mencoba mengklarifikasi semua persoalan dan agenda yang ingin dituntaskannya, termasuk dalam kehidupan filantropis dan kehidupan publiknya.
Perdana Menteri Macedonia, Branko Crvenkovski, menggambarkan George Soros sebagai negarawan tanpa negara. “Negara mempunyai kepentingan, tetapi tidak memiliki prinsip. Soros mempunyai prinsip, tetapi tidak memiliki kepentingan,” ungkap Crvenkovski pada suatu kesempatan. Soros sangat menyukai rumusan ini dan mencoba menjalaninya.
Tentang peran dan sepak terjang Amerika Serikat sebagai “polisi dunia”, Soros menulis (sesuai topik utama buku ini) bahwa kendala utama bagi tatanan dunia yang stabil dan adil ialah Amerika Serikat. “Ini tidak sopan—bahkan, bagi saya, menyakitkan—untuk dikatakan, namun sayangnya saya yakin bahwa hal itu benar. Amerika Serikat terus mencoba menetapkan agenda bagi dunia walaupun pengaruhnya melemah sejak peristiwa 9/11, dan pemerintahan Bush telah menetapkan agenda yang salah... bila ini berlanjut terlalu lama, kita berada dalam bahaya yang akan menghancurkan peradaban kita. Mengubah sikap dan kebijakan Amerika Serikat tetap menjadi prioritas utama saya”. Tulis Soros dalam buku ini. (Syafruddin Azhar)
The Name of the Rose

Judul buku : The Name of the Rose
Penulis : Umberto Eco
Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Edisi : I, Maret 2008
Tebal buku : xxx + 624 hlm.
Umberto Eco merilis novel pertamanya yang terkenal, Il nome della rosa pada 1980. Sebuah misteri intelektual yang mengombinasikan semiotika struktural dalam fiksi, analisis Biblical (yang berhubungan dengan Kitab Injil), studi Abad Pertengahan, dan teori sastra. Pada 1983 novel hebat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul: The Name of the Rose. Sebuah karya intelektual yang luar biasa imajinatif dan penuh kreatif. Novel sejenis ini tak banyak ditulis oleh orang hebat. Satu di antara makhluk genius yang langka itu adalah Umberto Eco, yang disebut-sebut memiliki “misteri intelektual”.
Thursday, August 28, 2008
Pidato-pidato yang Mengubah Dunia

Kekuatan Kata yang Menghasut Pikiran
Judul buku : Pidato-pidato yang Mengubah Dunia
Kompilator : Simon Sebag Montefiore
Penerbit : Esensi (Erlangga Group), Jakarta
Edisi : I, 2008
Orator selalu menjadi pesona bagi banyak orang (publik) di sepanjang zaman. Setiap zaman (era) acap kali melahirkan orator ulung termasuk juga para demagogue—penghasut, pemimpin, atau penggerak rakyat yang pandai berpidato dan berpolitik.
Pada zaman Yunani Kuno, ada Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) yang dianggap sebagai orator ulung dan terhebat sepanjang masa. Setelah Gaius Julius Caesar (100-44 SM) tewas karena tikaman belati Marcus Junius Brutus (85-42 SM) dan beberapa Senator Romawi yang berkomplot untuk melakukan konspirasi pembunuhan atas Julius Caesar, kepemimpinan Kekaisaran Romawi diteruskan oleh Marcus Antonius (83-30 SM) dan Cicero. Antonius sebagai pemimpin dan Cicero sebagai jurubicara (spokesman) senat.
Dalam perjalanan politik dua tokoh politik Romawi ini, terjadi rivalitas di antara mereka. Melalui kekuatan orasi atau pidato politiknya yang sangat hebat, Cicero mampu ‘menggiring’ (menghasut) publik Romawi untuk berpihak kepadanya. Antonius pun merasa terdesak oleh pidato Cicero (yang menghasut) itu hingga Cicero dibunuhnya. Kepala dan tangan Cicero dipamerkan di bangsal Istana untuk disaksikan oleh khalayak. Istri Antonius, Aelia Flavia Flaccilla, begitu membenci isi pidato yang disampaikan Cicero hingga dia mengeluarkan lidah Cicero untuk ditusuk-tusuk dengan tusuk kondenya. Flaccilla ingin menunjukkan kebenciannya atas kekuatan “lidah orasi” Cicero tersebut.
Pada abad ke-19 yang membentang dari tahun 1900-2000, lahir para orator besar dunia. Tercatat nama-nama tokoh terkemuka seperti Oliver Cromwell, Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, Mohandas Gandhi, Vladimir Ilyich Lenin, Joseph Stalin, Bung Karno, John F. Kennedy, Martin Luther King, Nelson Mandela, dan Bung Tomo sebagaimana terangkum dalam buku Pidato-pidato yang Mengubah Dunia (Esensi, 2008).
Pada saat ini, nama kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Barack Obama, juga disebut-sebut sebagai orator ulung. Sayangnya, nama Obama tidak dimasukkan dalam daftar orator dalam buku Pidato-pidato yang Mengubah Dunia ini. Di setiap momen kampanye politiknya, Obama disambut bagaikan superstar. Dua ratus ribu orang mendengarkan pidatonya di Tugu Kemenangan Berlin. Meski tak sampai memecahkan rekor pengumpulan massa terbanyak, namun dilaporkan bahwa lebih dari empat juta orang menonton siaran langsungnya di televisi Jerman. “People of the world, now do your duty. People of the world look at Berlin,” kata Obama dalam pidatonya itu.
Bagaimana pendapat publik mengenai isi pidato Barack Obama tersebut? Pakar politik luar negeri dari Partai Sosial Demokrat (SPD), Gert Weisskirchen, mengatakan: “Bila di Berlin diadakan pemilihan umum, maka dengan pidato itu, dengan penampilan dan dengan cara ia menggugah orang (massa), pastinya dia tidak saja merebut hati publik, tetapi juga suara para pemilih di Berlin.” Itulah kekuatan pidato seorang tokoh politik yang mampu menggugah dan mengubah pandangan dunia (world-view).
Sejak dahulu, para pemimpin besar telah menggunakan kemampuan orasi (pidato) mereka untuk menginspirasi dan menggugah para pengikutnya. Pidato yang hebat tidak saja mengungkap kebenaran, namun juga menyebarkan kebohongan seperti disampaikan oleh para demagogue itu. Kumpulan pidato luar biasa yang disampaikan para tokoh besar dunia yang sangat melegenda itu kini telah dihimpun di dalam buku mewah berjudul Pidato-pidato yang Mengubah Dunia. Buku ini memuat lebih dari 50 isi pidato yang menggugah dan sangat penting dari berbagai era sejarah dan bangsa di dunia.
Buku hebat edisi Indonesia yang telah diluncurkan oleh penerbitnya belum lama ini itu berisi himne-himne penuh semangat tentang kebebasan demokratis yang mengandung prinsip-prinsip kepatutan dan kebebasan, ungkapan kata-kata indah penuh makna, ajakan, himbauan, dan juga ‘hasutan’ yang menggugah dan mencerahkan dunia secara universal.
Setiap pidato juga dapat menjadi ‘jendela’ untuk melihat suatu masa dalam sejarah. Di era media elektronik seperti radio dan televisi sekarang ini, kebanyakan orang akan langsung teringat di mana mereka berada saat mendengar pidato Presiden George W. Bush tentang peristiwa 9/11, pidato Franklin D. Roosevelt setelah peristiwa Pearl Harbour (8 Desember 1941), atau pidato Vyacheslav Molotov yang sesungguhnya hanya membacakan naskah pidato Joseph Stalin setelah terjadinya invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet.
Banyak dari isi pidato ini yang mengutarakan kebenaran abadi seperti Pidato Gettysburg, atau pidato yang kurang dikenal oleh tokoh pemberontak sekaligus presiden masa depan Cekoslovakia, Vaclav Havel; atau Presiden Israel, Chaim Herzog. Kesederhanaan bahasa menandai pembuatan pidato hebat seperti Khotbah Yesus atau pidato Martin Luther King. Adapun pidato dengan kalimat indah membuai dapat dikemukakan oleh para tokoh jahat dan bisa menjadi topeng (monster) untuk mengaburkan pemahaman publik.
Pidato Adolf Hitler, misalnya, menunjukkan keahliannya sebagai agitator politik, aktor, dan penulis naskah pidato terkemuka. Namun sayangnya, ia digayuti oleh kepicikan, muslihat, dan tipu daya. Sebaliknya, walaupun pandangan Stalin itu kejam, namun anak tukang sepatu yang sederhana itu tak ragu menyampaikannya dengan kejelasan yang mengejutkan.
Paling tidak, buku Pidato-pidato yang Mengubah Dunia yang juga memuat biografi singkat dari penyampai pidato itu akan menginspirasi para pembaca, serta dapat memberikan pemahaman yang lebih luas tentang peristiwa pada masa pidato-pidato yang menggelora dan memukau khalayak publik itu disampaikan.
Pembaca buku ini setidaknya bisa ‘mendengar’ penjelasan dari para penyampai pidato tersebut tentang bagaimana mereka berdiri di persimpangan sejarah.
Syafruddin Azhar adalah kolumnis dan peneliti pada Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP), Jakarta.
Ahmadinejad: The Nuclear Savior of Tehran

Sang Nuklir dari Tehran
Judul buku : Ahmadinejad: The Nuclear Savior of Tehran
Penulis : Adel el-Gogary
Penerjemah : Tim Kuwais
Editor : Cecep Ramli dan Ito
Penerbit : Pustaka Iman, Jakarta
Edisi : I, April 2007
Tebal buku : x + 337 hlm.
Konon, keberatan Amerika Serikat (AS) terhadap pengembangan proyek nuklir Iran hanya untuk kepentingan negeri Paman Sam itu sendiri. Presiden George W. Bush tidak ingin ada negara lain di dunia—selain Amerika Serikat dan Israel—menguasai teknologi nuklir ini. Padahal, Presiden Ahmadinejad kembali menegaskan bahwa semua negara di dunia berhak memanfaatkan teknologi tinggi, termasuk teknologi nuklir.
Sebuah narasi hidup tentang Presiden Ahmadinejad dan revolusi nuklir di Iran (untuk perdamaian dunia), dibeberkan secara kritis dan komprehensif dalam buku Ahmadinejad: The Nuclear Savior of Tehran.
Tidak diragukan lagi, Ahmadinejad adalah Presiden Iran yang menghebohkan dunia yang membawa Republik Islam Iran kembali ke wacana politik internasional. Buku ini merupakan pengantar yang baik untuk lebih mengenal dan memahami Presiden Ahmadinejad serta kebijakan politik luar negeri Iran yang populer.
Ada sebagian orang yang memiliki kelebihan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Pengaruhnya luas, perannya lebih besar dari gelar yang disandangnya, daya tariknya tak bisa dihentikan atau dibatasi, serta impiannya setinggi langit dan seluas samudera. Itulah profil singkat yang dimiliki Presiden Ahmadinejad.
Ketokohan Ahmadinejad dikatakan sebagai perpaduan tiga pribadi dari tiga zaman yang berbeda. Ia pun dianggap sebagai salah satu keturunan para pemimpin yang memiliki wawasan kenabian yang mulia. Kepribadian dan popularitasnya merupakan perpaduan agung antara wawasan keislaman dan patriotisme Hussain bin Ali r.a, keagungan Presiden Jamal Abdul Nasr, serta memiliki wawasan luas dan penyabar seperti Mahatma Gandhi.
Mahmoud Ahmadinejad terlahir di era globalisasi, di sebuah negeri yang masyarakatnya memegang teguh tradisi keagamaan yang meraka anut. Masyarakat Iran juga sangat teguh dalam pendirian dan teguh memegang kata bijak, “Bersahabatlah dengan siapa saja, sekalipun dengan serigala; yang penting kapakmu selalu siap.”
Barangkali pandangan inilah yang ada di sebagian masyarakat Iran. Ketika Presiden Ahmadinejad mengumandangkan revolusi nuklirnya, segara disambut meriah oleh rakyatnya. Pengalaman pahit yang dialami rakyat Palestina dan Irak, agaknya menjadi momok bagi masyarakat Iran. Presiden Ahmadinejad dan rakyatnya berkeyakinan bahwa Amerika Serikat merupakan pimpinan para ‘serigala’ yang mesti diwaspadai. Serigala-serigala ini senantiasa menunggu kesempatan untuk menerkam suatu negeri di kawasan Timur Tengah demi minyak, air, dan tanah jajahan. Serigala kecil, yakni Israil, telah berhasil memangsa Palestina. Sementara ‘serigala’ lainnya, yaitu negara Barat, menari-nari di Dewan Keamanan PBB, dengan tarian “hukum internasional”.
Di zaman seperti sekarang ini bagi rakyat Iran, kapak haruslah selalu siap. Namun kapak tidak ada gunanya jika tak ada tangan yang menggerakkannya. Seperti pada pemahaman, bahwa tak ada jihad—untuk membela kebenaran dan mempertahankan hak—tanpa adanya pasukan. Dengan pemikiran sederhana seperti ini, timbul keputusan yang sangat sulit namun harus ditempuh, yakni mengaktifkan kembali program pengayaan nuklir supaya Iran memiliki alat proteksi untuk melindungi diri dari segala ancaman, baik teknologi maupun militer. Mustahil bagi Iran dengan sejarah masa lalunya yang agung sebagai sebuah imperium besar, yakni Persia, membiarkan begitu saja wilayahnya dijajah dan diinjak-injak negara asing.
Sejak kemunculan pertamanya ke hadapan publik, Ahmadinejad adalah seorang yang sederhana, berperasaan halus, dan ramah. Dia adalah pemimpin bagi para pelajar yang tak mau tunduk begitu saja pada aturan universitas yang korup dan kerajaan yang diktator. Dia adalah patriot baru yang telah terdidik di madrasah kenabian. Dia tumbuh di bawah naungan pemikiran Imam Khomeini yang pernah berkata, “Jika Amerika senang kepadamu, maka ada yang patut dipertanyakan dengan akidahmu!”
Jika zaman itu adalah manusia, maka zaman yang hebat itu telah mempertemukan dua peristiwa penting yang terpisah selama 50 tahun. Di tahun 1965, Jamal Abdul Nasr menjadi pemimpin dunia Arab, setelah menentang AS karena menolak mendanai proyek pembangunan as-Saddul ‘Aaliy (bendungan raksasa Aswan) yang terletak di sebelah selatan Mesir. Akhirnya ia memutuskan untuk menasionalisasi perusahaan Terusan Suez, yang dikuasai Inggris dan Prancis. Tak pelak, ia harus berhadapan dengan kekuatan perang tiga negara (Inggris, Prancis, dan Israel) dalam pertempuran yang tidak seimbang. Namun demikian, Nasr punya prinsip, bahwa yang lemah tidak boleh mengalah begitu saja.
Lahirlah di negeri para mullah ini seorang pemimpin berkepribadian tangguh, Mahmoud Ahmadinejad. Dialah harapan masyarakat Iran—dan juga masyarakat di kawasan Timur Tengah secara umum—untuk membangun kepercayaan diri dan patriotisme agar tidak mengalah begitu saja terhadap hegmoni Amerika dan Zionis Israel.
Syafruddin Azhar adalah kolumnis, pengamat perbukuan, dan peneliti pada Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP) Jakarta.
Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler
Konspirasi Agama dan Negara
Judul buku : Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler
Penulis : John Cornwell
Penerjemah : Jimmi Firdaus
Penerbit : Beranda, Yogyakarta
Edisi : I, Januari 2008
Tebal buku : xxxii + 520 hlm.
Catatan sejarah yang menghebohkan. Sebuah riset ilmiah tentang sejarah konspirasi agama dan negara yang luar biasa kontroversial ini mengisahkan Eugenio Pacelli (1876-1958), seseorang yang pernah menjabat sebagai Paus Pius XII (2 Maret 1939–9 Oktober 1958) itu ditengarai sebagai sosok gerejawan yang paling berbahaya di zaman modern.
Melalui buku Hitler’s Pope (1999) yang menuai kecaman dari Vatikan, John Cornwell, sejarawan dan jurnalis Inggris yang mengepalai The Human Science and Human Dimension Project pada Jesus College, Cambridge, mempublikasikan fakta baru yang mengagumkan. Dia mengatakan bahwa Paus Pius XII membawa keotoriteran dan sentralisasi para pendahulunya ke tingkat yang paling ekstrem. Dia memaparkan sebuah studi yang mendalam tentang seorang tokoh agama dan negara yang sangat kompleks, yang terombang-ambing dalam rangkaian krisis paling tragis yang pernah melanda daratan Eropa.
Sebagai Sekretaris Negara Vatikan (Cardinal Secretary of State), Pacelli yang memiliki nama lengkap Eugenio Maria Giuseppe Giovanni Pacelli, menandatangani persetujuan dengan pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler (1889-1945), pada 1933 untuk melindungi kekuasaan Gereja Katolik sebagai imbalan atas penarikan Gereja dari ranah politik.
Persetujuan rahasia ini terbukti berakibat fatal. Saat Eugenio Pacelli dinobatkan menjadi Paus Pius XII, ia tetap menolak untuk mengutuk tindakan keji sang Führer; meskipun dia merupakan salah satu pemimpin Eropa yang menyadari bahaya genocide (pemusnahan secara teratur terhadap suatu bangsa). Sang Paus bahkan tidak bergeming saat kaum Yahudi Italia berkumpul di bawah tembok Vatikan untuk kemudian digiring ke kamp-kamp pembantaian maut atau holocaust (dari bahasa Yunani, holokauston: persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya). Kegagalan Paus Pius XII mengecam Naziisme, terutama ketika dilihat dari paham anti-Semitnya, adalah salah satu skandal besar di masa perang.
Dengan memanfaatkan dokumen rahasia yang dimiliki Vatikan, Cornwell berhasil membongkar konspirasi rahasia antara Paus Pius XII dan Adolf Hitler. Karya ilmiah yang mengesankan ini merupakan kajian akademis yang objektif dan kritis. Buku ini akan menghukum cacat reputasi seorang tokoh kharismatik untuk selama-lamanya.
Buku Hitler’s Pope tidak dimaksudkan sebagai bahan bacaan yang memaparkan seluk beluk hubungan negara dan gereja, tetapi mengungkap hubungan Pacelli dan Hitler. Kompleksitas Pacelli disingkap dengan tenang, menunjukkan dengan kepekaan tinggi seruan Pacelli dengan beban berat kepausan, yakni tanggung jawab moral dan agama. Tentu saja, tulisan yang bersungguh-sungguh dan brilian berdasar keutamaan bobot sejarah seperti ini akan menimbulkan gelombang kejut dan amarah, serta rasionalisasi dan penyangkalan.
Lima tahun setelah buku Hitler’s Pope ditetapkan sebagai “the international bestseller”, Cornwell mengubah sedikit pandangan kritisnya itu. Dalam majalah The Economist (9 Desember 2004), dia mengatakan, “I would now argue in the light of the debates and evidence following Hitler’s Pope, that Pius XII had so little scope of action that it is impossible to judge the motives for his silence during the war, while Rome was under the heel of Mussolini and later occupied by the Germany.”
Buku Hitler’s Pope memperjelas episode yang sebelumnya diabaikan dalam kehidupan santo, dan memberitahu kita segala kekurangan dalam versi yang bisa diterima. Pius XII dan Yahudi, serta semua hal mengenainya terlalu menyedihkan dan terlalu berat untuk sebuah kepahitan. Kebungkaman yang keterlaluan dan sungguh-sungguh keliru karena telah bersekutu dengan segala kekuatan pembawa penindasan, ketidakadilan, agresi, eksploitasi, dan perang.
Dalam bingkai sejarah yang rigit, Cornwell merunut karakter Eugenio Pacelli dari latar belakang keluarga, masa pendidikan, dan pengalaman diplomatiknya sebelum akhirnya dinobatkan sebagai Paus Pius XII pada 1939. Cornwell secara berani membuka isu hubungan antara Gereja Katolik dan Nazi dalam debat terbuka, meski pada saat yang bersamaan dia dikecam karena dianggap mengabaikan bukti positif dari para pemimpin Yahudi yang memuji tindakan Paus Pius XII dalam penyelamatan kaum Yahudi dari holocaust.
Buku Hitler’s Pope menjadi bukti keberanian seorang jurnalis dalam mengungkap krisis moral yang menimpa tokoh kharismatik sekaliber santo. Cornwell memaparkan fakta bahwa sewaktu ribuan kaum Yahudi ditangkap dan dideportasi keluar dari Roma oleh penguasa Jerman, Pacelli menampakkan kebungkaman “diplomatik” sekaligus “liturgis”. Tidak ada protes atau teguran kepada Hitler, juga tidak ada doa dan misa bagi para korban.
Drs. Syafruddin Azhar adalah kolumnis dan peneliti pada Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP) Jakarta.
